Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadi salah satu posisi terlemah dalam sejarah. Pelemahan ini dipicu kombinasi tekanan global seperti konflik geopolitik, penguatan dolar AS, hingga kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.
Baca Juga: Hantavirus Terdeteksi di Jakarta, Warga Diminta Waspada Penyebaran dari Tikus↗
Dampak pelemahan rupiah mulai dirasakan sejumlah sektor usaha, termasuk industri sawit dan pertambangan di Kalimantan Tengah. Pelaku usaha khawatir kenaikan biaya operasional dan impor alat produksi akan semakin menekan bisnis di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
Baca Juga: Trump Klaim China Akan Borong 200 Boeing Usai Bertemu Xi Jinping↗
Pemerintah dan Bank Indonesia disebut terus melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik dan memastikan kondisi ekonomi Indonesia masih terkendali.
Baca Juga: Nadiem Mengaku Tak Menyesal Jadi Menteri Meski Terancam Penjara
Di media sosial, pelemahan rupiah juga ramai diperbincangkan netizen. Banyak pengguna internet mengungkap kekhawatiran terhadap harga kebutuhan pokok, PHK, hingga dampak jangka panjang terhadap daya beli masyarakat.
source: Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dollar AS, Sektor Sawit dan Tambang Kalteng Terancam↗

